Wisata Baubau Terus Bersiasat Di Keterbatasan Dana Promosi

Pantai Kokalukuna Baubau 

Kota Baubau di Pulau Buton, adalah daerah otonom yang dikenal sebagai pusat budaya dan sejarah terbesar di Sulawesi Tenggara. Jejak-jejaknya pun masih tersimpan lestari hingga masa kini. Sebutlah keberadaaan Benteng Keraton Buton dengan ratusan aksesories di dalamnya. Belum termasuk bangunan-bangunan warisan kolonial yang masih terjaga adalah potensi wisata yang sangat menjanjikan.

Obyek Wisata Hutan Samparona-Baubau

Kota Baubau juga dianugerahi alam yang begitu memesona. Pantainya menyajikan panorama alam dengan laut yang sangat bersih. Tak salah bila orang yang berkunjung ke kota ini berdecak kagum dan berujar, “Kota cantik yang punya budaya dan sejarah panjang”.

Namun begitu, objek-objek pariwisata yang ada belum maksimal memberikan sumbangsih bagi Pendapatan Asli daerah (PAD). “masih harus banyak berinovasi dan komitmen besar untuk itu,” kata Dr. H. Idrus Taufiq Saidi, S.Kom., M.Si -  Kadis Pariwisata Kota Baubau yang dikenal dengan nama Fecky Saidi.

Dr. H. Idrus Taufiq Saidi, S.Kom., M.Si

Lalu apa langkah strategis dinas dalam mendorong percepatan pembangunan sektor kepariwisataan di Kota Baubau. berikut ini wawancara singkat Fecky Saidi dengan metaide. 

2026, diketahui sebagai tahun efisiensi, bagaimana dengan pariwisata kita?

Efisiensi bukan pagar pembatas. Semua insan pariwisata harus tetap fokus untuk pemajuan kepariwisataan di daerah dan jiuga pemajuan kebudayaannya. Hanya memang sektor-sektor promosi kita yang bersifat konvensional yang perlu pembatasan. Kita beralih pada penggunaan media sosial yang lebih murah dan efektif. Intinya harus lebih inovatif. 

Lalu di 2026 ini tidak ada pergerakan di obyek-obyek yang ada?

Sekali lagi efisiensi bukan pembatasan. Hanya distribusi anggaran yang lebih di skala prioritaskan. Untuk sektor kepariwasataan tetap fokus bekerja seperti biasa, hanya tidak bisa sekaligus, kita buat skala prioritasnya. Seperti tahun ini, kami kembali ‘menyetuh’ kawasan hutan wisata Samparona.

Samparona?

Iya, di sana kan dikenal sebagai kawasan hutan wisata. Kita hidupkan kembali dengan penambahan fasilitas untuk pengunjung, kami buat Baruga, fasilitas tempat sampah, dan pembenahan sarana prasarananya, bahkan juga penguatan promosinya.

Siapa yang terlibat?

Kami adalah dinas teknis dan kemudian dimediasi oleh Dinas Kehutanan Provinsi (Sultra) sebab Samparona dalam pengawasan sebagai hutan homogen yang dijaga kelestaraiannya. Oleh sebab tu kami melibatkan Kelompok Tani Hutan yang juga bertindak sebagai Pokdarwis. Dan itu telah berjalan beberapa tahun ini.

Intinya bahwa Hutan Pinus Samparona dan kawasan sekitarnya adalah kawasan wisata, aset ekologi, dan ekonomi. Terletak di Sorawolio, hutan pinus ini dilindungi sebagai paru-paru kota, tempat rekreasi (camping, flying fox), dan lahan produksi getah, sekaligus didorong menjadi hutan wisata. 

Lalu bagaiimana dengan sektor-sektor lainnya?

Yang harus di ketahui publik, bahwa Dinas Pariwisata kini berubah nomenklaturnya menjadi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, nomeklatur kebudayaan ini yang kita fokus pemajuannya. Sebab Kota Baubau dikenal kaya dengan ritual-ritual kebudayaan yang sangat beririan langsung dengan industri kepariwisataan. 

Sebagai kepala dinas, saya bertemu dan berdiskusi dengan para akademisi dan tokoh kebudayaan, membicarakan bagiaman pola strategis yang harus dibangun termasuk upaya promosi berkelanjutan. Sebab kita semua tahu bahwa Baubau itu pusatnya kebudayaan di kawasan kepulauan Buton.

Apa kendalanya?

Saya tak bahas kendala dulu sebab kita tahu bersama visi pemerintahan Wali Kota H. Yusran Fahim, dan Wakil Wali Kota Wa Ode Hamsinah Bolu adalah Baubau Kota Budaya yang cerdas, sejahtera, dan bermartabat. Jadi apapun caranya kita harus mengubah wsiat dan kebudayaan kita menjadi sebuah industri yang menjanjikan. Format-formatnya terus kita diskusikan dengan pihak-pihak terkait.

Penyimpulan kita soal wisata dan kebudayaan kita di Baubau seperti apa?

Saya terus mengajak orang untuk berkunjung ke Baubau, di sini paket wisata kita lengkap, terjangkau dan memuaskan. Pantai-pantai kita berstandar global, wsiata budaya kita pun begitu. Yang kita terus asah adalah managemen pengelolaannya. Kendati di sini juga  telah banyak pengelola yang profesional dan terstandarisasi. Demikian pula regulasi penunjangnya yang tersu kita upayakan, agar Baubau benar-benar menjadi kota wisata dan kota budaya yang memiliki dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat Kota Baubau dan sekitarnya. (zah)




Posting Komentar

0 Komentar